PROSES MASUKNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA

SEKILAS TENTANG AGAMA ISLAM
Agama islam lahir di Mekkah, Arab Saudi. Agama ini diyakini sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada umat manusia melalui utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ia lahir pada tahun 570 M.

Pada bulan Ramadhan pada tahun 610 M (menjadi tahun lahirnya islam), saat berusia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu yang pertama melalui perantara Malaikat Jibril di Goa Hira. Muhammad diangkat menjadi rasul Allah dan dari situ dimulailah proses turunnya Al Qur’an, kitab suci agama islam.

Khadijah dan sahabat-sahabat nabi seperti Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, dan Zaid Bin Haritsah tercatat sebagai pemeluk pertama islam.

Sekitar tahun 613 M, Nabi Muhammad menyebarkan agama islam secara lebih terbuka. Tantangan terbesar datang dari suku Quraisy dan penduduk Mekkah. Setelah 13 tahun, Nabi Muhammad bersama pengikutnya memutuskan untuk pindah ke Yatzrib, yang kelak bernama Madinah. Peristiwa yang dikenal dengan nama Hijrah ini kemudian digunakan sebagai awal penanggalan islam.

Di Madinah, islam berkembang pesat. Untuk mendapatkan Mekkah, Nabi Muhammad terpaksa terlibat serangkaian perang dengan orang-orang kafir di Mekkah. Pada tahun 630 nabi berhasil membebaskan kota Mekkah dari kekuasaan kaum kafir.

Pasca perang, orang-orang quraisy dan penduduk mekkah mulai memeluk agama islam, dan ka’bah menjadi kiblat ibadah umat islam. Hal ini kemudian diikuti banyak suku lain yang berdiam di Jazirah Arab. Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 6 juni 632 dalam usia 63 tahun.

Teori-Teori Tentang Masuknya Agama Islam ke Indonesia
1).Teori Gujarat, menurut teori ini, yang didukung oleh Snouck Hurgronje, W.F.Suttherheim, dan B.H.M. Vlekke, islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13, dibawa oleh para pedagang islam dari gujarat, india.
2).Teori Mekkah, menurut teori ini, yang didukung oleh Buya Hamka dan J.C. van Leur, pengaruh islam telah masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7, dibawa langsung oleh para pedagang arab.
3).Teori Persia, menurut teori ini, yang didukung oleh Hoesein Djajadiningrat, islam di Indonesia dibawa masuk oleh orang-orang persia sekitar abad ke-13.

SALURAN-SALURAN PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA
Proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan islam ke indonesia pada umumnya berjalan dengan damai, sehingga mendapat sambutan yang baik dari masyarakat kalangan raja, bangsawan, maupun rakyat biasa. Hal itu didukung faktor-faktor berikut:
1). Syarat memeluk islam sangat mudah, cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
2). Tata cara peribadatan islam sederhana, tidak perlu persiapan yang rumit
3). Islam tidak mengenal pelapisan sosial seperti halnya agama hindu dengan sistem kasta nya. Sehingga orang indonesia mudah menerima agama ini.

Penyebaran islam yang berlangsung damai itu dapat terlihat pada cara-cara penyebarannya, yaitu melalui saluran perdagangan, perkawinan, pendidikan, ajaran tasawuf, dakwah dan kesenian. Pedagang, mubalig, wali, ahli tasawuf, guru agama dan haji berperan penting dalam proses tersebut.

Saluran Perdagangan
Perdagangan merupakan metode penyebaran islam yang paling kentara, bahkan dapat dikatakan sebagai saluran pertama dan utama penyebaran islam.

Menurut Tome Pires, sekitar abad ke-7 sampai abad ke-16 lalu lintas perdagangan yang melalui indonesia sangat ramai. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan pedagang asing (islam) dari gujarat dan timur tengah (arab dan persia) bertemu dan saling bertukar pengaruh.

Saluran Perkawinan
Saluran penyebaran islam selanjutnya adalah melalui perkawinan. Pedagang-pedagang itu dan juga keluarganya menikah dengan perempuan pribumi, putra putri para bangsawan (adipati), dan bahkan dengan anggota keluarga kerajaan.

Hal ini berdampak positif terhadap perkembangan islam. Keluarga pedagang atau ulama itu mensyaratkan perempuan idamannya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu. Anak-anak hasil pernikahan itupun cenderung mengikuti agama islam yang dianut orangtuanya.

Saluran Pendidikan
Perkembangan islam yang semakin meluas mendorong munculnya para ulama dan mubalig. Para ulama dan mubalig menyebarkan islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren di berbagai daerah.

Di pondok pesantren, kaum muda (santri) dari berbagai daerah dan kalangan menimba pengetahuan tentang islam. Mereka lalu kembali ke daerah asal dan menyebarkan ajaran-ajaran tentang agama islam. Saluran ini sangat efektif untuk mempercepat dan memperluas penyebaran islam hingga ke daerah-daerah yang terpencil.

Selain menjadi pendidik di pesantren, beberapa ulama atau kiai diminta menjadi penasehat agama atau guru bagi para bangsawan keraton.

Saluran Ajaran Tasawuf
Ajaran tasawuf diperkirakan masuk ke indonesia sekitar abad ke-13, tetapi baru berkembang pesat sekitar abad ke-17.

Ajaran tasawuf banyak dijumpai dalam cerita-cerita babad dan hikayat dari masyarakat setempat. Ajaran ini mudah berkembang terutama di jawa, karena ajaran islam melalui tasawuf disesuaikan dengan mindset (pola pikir) masyarakat yang masih berorientasi agama hindu.

Tokoh-tokoh taswuf yang terkenal diantaranya: Hamzah Fansuri, Syamsudin as-Sumatrani, Nurrudin ar-Raniri, Sunan Bonang, Syekkh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.

Saluran Dakwah
Penyebaran islam tidak dapat dilepaskan dari peranan para wali. Ada 9 wali yang menyebarkan islam dengan cara berdakwah, yang disebut juga walisongo. Mereka dikenal telah memiliki ilmu dan penghayatan yang tinggi terhadap agama islam.
1). Sunan Gresik, juga dikenal dengan nama Maulana Maghribi atau Maulana Malik Ibrahim, wafat tahun 1419 dan dimakamkan di Gresik
2). Sunan Gunung Jati, juga dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah atau Falatehan
3). Sunan Ampel, bernama asli Raden Rahmat
4). Sunan Giri, bernama asli Raden Paku, dimakamkan di Gresik
5). Sunan Bonang, dengan nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim, wafat tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban
6). Sunan Kudus, dengan nama asli Jafar Sodiq
7). Sunan Kalijaga, dengan nama asli Raden Said, dimakamkan di Kadilangu, Demak
8). Sunan Muria, dengan nama asli Raden Prawata
9). Sunan Drajad, dengan nama Maulana Syarifuddin

Saluran Kesenian
Agama islam juga disebarkan melalui kesenian. Beberapa bentuknya telah disebutkan seperti wayang (oleh Sunan Kalijaga), gamelan (oleh Sunan Bonang), serta gending (lagu-lagu) yang berisi syair-syair nasehat dan dasar-dasar ajaran islam.

Kesenian yang telah berkembang sebelumnya tidak musnah tetapi diperkaya dengan seni islam (disebut akulturasi). Seni sastra juga berkembang pesat, banyak buku tentang tasawuf, hikayat, dan babad disadur kedalam bahasa melayu.

KEHIDUPAN POLITIK DAN SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA PERKEMBANGAN ISLAM
Masuknya agama islam ke nusantara secara tidak langsung membawa perubahan terhadap kehidupan politik  dan sosial budaya nusantara.

Dalam Bidang Politik, konsep dewa raja yang bercorak hindu-buddha (dimana raja dianggap sebagai titisan dewa) diganti dengan konsep islam khalifah. Sebutan raja diganti menjadi sultan. Selain itu, saat meninggal sang sultan tidak di dharma kan didalam candi, melainkan dimakamkan secara islam.
Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia

Kerajaan Tradisional Kesultanan Islam Indonesia

Dalam Bidang Sosial-Budaya, pengaruh islam tampak setidaknya dalam beberapa hal:
1). Tidak dikenal lagi sistem kasta atau pelapisan sosial sebagaimana dalam agama hindu.
2). Dari segi bahasa, banyak kosakata arab dipakai dan/atau diserap kedalam bahasa melayu dan kemudian bahasa indonesia. Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf pallawa kedalam huruf arab, yang kemudian dikenal sebagai huruf jawi.
3). Pengaruh lain yang sangat nyata adalah dalam bidang pendidikan, terutama melalui pesantren. Melalui pesantren, agama dan kebudayaan islam dikembangkan dan beradaptasi dengan budaya lokal yang berkembang disekitarnya. Dengan demikian, pesantren ikut membentuk kebudayaan dan cara berfikir rakyat indonesia
4). Dalam hal busana, ada jenis pakaian tertentu yang menunjukkan identitas islam, seperti sarung, baju koko, kopiah, kerudung, jilbab dan sebagainya.

Sementara itu, pengaruh lainnya adalah dalam hal Seni Bangunan, seperti bangunan makam, masjid, dan keraton. Masjid-masjid, bangunan, dan makam kuno menunjukkan adanya akulturasi dengan bangunan pada masa hindu-buddha.

Dalam Bidang Seni Sastra, pengaruh arab dan persia sangat kuat, namun tetap disesuaikan dengan tradisi setempat. Pengaruh arab terhadap seni sastra biasanya berbentuk syair yang terdiri atas 4 baris dalam setiap baitnya. Adapun pengaruh persia berbentuk hikayat, yaitu kisah perseorangan yang diangkat dari tokoh-tokoh terkenal yang hidup pada masa itu.

Dalam Bidang Seni Rupa, para seniman masa itu adakalanya membuat ukiran binatang atau makhluk hidup lainnya yang bentuknya sudah disamarkan, sebuah teknik yang lazim disebut stilisasi (atau deformasi). Teknik stilisasi digunkaan oleh karena ajaran islam melalui hadist Nabi Muhammad SAW melarang melukis makhluk bernyawa.

Pada masa perkembangan islam dikenal juga Seni Kaligrafi, atau seni menulis indah yang memadukan seni lukis dan seni ukir yang distilisasi dan menggunakan tulisan dalam bahasa arab. Isi penulisan dalam kaligrafi umumnya bersumber dari ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadist.

Dalam Bidang Seni Tari Dan Musik, pengaruh islam tampak dalam 3 bentuk kesenian berikut: Debus, Seudati, dan Zapin. Debus, diyakini sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang berkembang sejak masa-masa awal islam (semasa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin 1532-1570). Tari seudati adalah nama tarian yang berasal dari provinsi Aceh. Zapin merupakan khazanah tarian rumpun melayu yang mendapat pengaruh dari arab, persia, dan india sejak abad ke-13.

Sistem Kalender juga mengalami perubahan dengan masuknya islam. Pada masa hindu-buddha digunakan sistem kalender dengan Tahun Saka. Pada masa islam digunakan sistem kalender atau penanggalan baru dengan sistem Hijriah.  Kalender hijriah diawali dengan bulan Muharam dan diakhiri dengan bulan Zulhijah.

REFERENSI:
Hapsari R. dan Adil M., 2017, Sejarah Indonesia untuk SMK/MAK Kelas X, Jakarta, Penerbit Erlangga
Kemendikbud, 2017, Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Semester 1, Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Jangan lewatkan update terbaru dari Blog Sahabat Geografi. Yuk gabung di channel dan akun sosial media berikut ini kawan:
Telegram: https://t.me/SahabatGeografi
Twitter: https://twitter.com/SahabatGeografi
Facebook: https://www.facebook.com/SahabatGeografi

16 komentar:

farida said...

ada beberapa teori ya, bisa jadi memang masuknya dalam beberapa gelombang :)

Lantana Magenta Hermosa said...

Dapet deh info tentang Sembilan sunan, makasih ya

Ubed Cakep said...

@farida, iya kak, bisa jadi itu :D

@Lantana, ok kak siap :D

Aris Armunanto said...

Bagus sekali artikelnya jadi nambah pengetahuan mas tentang awal masuknya dan penyebaran agama Islam ke nusantara

Vika Hamidah said...

hehehe banyak teori yang berbeda beda ya mengenai masuknya agama dan kebudayaan. Sangat bermanfaat nih buat yang masih sekolah banyak bahas mengenai masuknya kebudayaan islam

Bintang said...

Inget pelajaran sejarah di SMP. Dan nilai kecil krna gak hafal soal sunan hihi

Ridsal said...

Lumayan banyak teorinya begitu juga dengan jalurnya seperti melalui perniagaan, pernikahan dan lainnya. Serasa belajar sejarah kembali..

Kang Nata said...

kalau menurut saya sich Masuknya Islam dibawa oleh Orang Luar ke Indonesia, baik dng cara berdagang atau cara yang lain.

sopyan nc said...

memang bnyk sejarah nya islam masuk indonesia termasuk kerajaan pertama memeluk islam
saya jd tmbh wawasan lagi diartikel ini

dear anies said...

saya belajar Islam di indonesia ketika di sekolah menengah utuk subject Sejarah. manakala tentang walisongo, saya belajar dalam subject Pendidikan Al-Quran dan Sunnah. ;-)

Satria Mwb said...

Islam sendiri masuk indonesia boleh dikatakan sudah cukup lama...Namun kala itu sebagian orang masih memandang sebelah mata...

Dahulu kala orang mungkin lebih dominan ke penganut kepercayaan... Maka tak heran jika penyebaran agama islam seperti yang telah dijelaskan lengkap diatas..😄😄

Anggara Wikan Prasetya said...

Bagus infonya..

Tapi ada info sejarah juga kalau Islam sudah masuk Indonesia, terutama di Jawa pada zaman Majapahit atau bahkan Mataram Kuno..

Penyebar Islam pertama di Jawa adalah Syekh Jumadil Kubro yang juga dijuluki Bapak Para Wali..
Cuman mungkin Islam pada saat kedatangannya di Jawa belum begitu berkembang.. Masih menjadi minoritas..

$cocoper6 said...

Menarik dipahami dan diketahui, ya pengetahuan umum

Djangkaru Bumi said...

Kalau saya lebih ke teori ketiga. Teori persia, dimana saat terjadi peperangan di dataran arab, sehingga banyak yang melarikan diri keluar dari arab.

ROMPIS LOVERS TV said...

wah begini toh sejarahnya, jadi nambah dech ilmu pengetahuannya berkat artikel ini

Rai Vinsmoke said...

ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat ayo segera bergabung dengan kami di f4n5p0k3r
Promo Fans**poker saat ini :
- Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
- Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
- Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis
Ayo di tunggu apa lagi Segera bergabung ya, di tunggu lo ^.^

Post a Comment