Kelangkaan Air di Indonesia

Jumat, 28 Desember 2012 ·

Sejak tahun  2003 terdapat 77% kabupaten/kota di Jawa yang memiliki defisit air selama 1-8 bulan dalam setahun. Sedangkan sebanyak 36 kabupaten/kota defisit air 5-8 bulan dalam setahun (Suara Merdeka, edisi 31 Agustus 2012). Lebih lanjut dijelaskan bahwa defisit air terjadi selama tujuh bulan pada musim kemarau. Sedangkan surplus air berlangsung lima bulan pada saat musim penghujan. Pada tahun 2020 yang akan datang, potensi air yang ada di Indonesia diproyeksikan hanya 35% yang layak dikelola, yakni 400 m3/kapita tahun. Angka ini jauh dari standar minimum dunia, yakni 1.100 m3/kapita/tahun.

Baru-baru ini, defisit air terjadi di Waduk Kedungombo yang terletak diantara Kabupaten Boyolali dan Sragen, dimana waduk ini yang difungsikan sebagai simpanan air, sekarang tidak lagi mensuplai air menyusul kekeringan yang terjadi, sehingga sumber air Tuntang yang berada di Kabupaten Semarang menjadi alternatif untuk mengatasi sementara kekurangan air di beberapa wilayah di Semarang, (Suara Merdeka edisi 21 September 2012).

Permasalahan serupa juga terjadi di Pekalongan, dimana ribuan warga Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah terancam tanpa penerangan listrik karena delapan pembangkit lisrik tenaga mikro hidro (PLTMH) terganggu akibat debit air sungai menyusut di wilayah itu (ANTARA News 8 September 2012). Di Jawa Barat juga terjadi permasalahan kekeringan, dimana sekitar 55.000 hektar sawah mengalami kekeringan yakni berada di Kabupaten Ceribon, Sukabumi, dan Subang (Tempo 6 September 2012).

Selain berpengaruh pada sektor pertanian, kekeringan juga berpengaruh terhadap sektor perikanan, dimana akibat musim kemarau yang panjang di sejumlah wilayah Pulau Jawa menyebabkan sebagian besar petambak mengalami kerugian, hal tersebut disampaikan oleh Organisasi tani dan nelayan, Kontak Tani dan Nelayan Andalan KTNA (BBC 15 September 2012).

Tinjauan Teoritis
Ditinjau secara konseptual, kekeringan merupakan keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam periode waktu yang berkepanjangan, bisa beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Biasanya kejadian ini muncul bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat evaporasi, transpirasi, ataupun penggunaan lain oleh manusia.

Kekeringan dapat menjadi bencana alam apabila mulai menyebabkan suatu wilayah kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan pada pertanian dan ekosistem yang ditimbulkannya. Dampak ekonomi dan ekologi kekeringan merupakan suatu proses sehingga batasan kekeringan dalam setiap bidang dapat berbeda-beda. Namun demikian, suatu kekeringan yang singkat tetapi intensif dapat pula menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat terutama petani. Terlebih lagi bencana kekeringan mengakibatkan kurang tersedianya air bersih untuk keperluan sehari-hari bagi masyarakat. Pada tahun 1997 pada saat fenomena EL-Nino kuat sekali, mengakibatkan kekeringan diseluruh wilayah Indonesia. Bencana kekeringan, selain diakibatkan oleh kurangnya curah hujan, juga dapat diakibatkan oleh kurangnya daya serap air. Kurangnya daya serap air dipicu oleh perubahan tata guna lahan dari kawasan hutan berubah menjadi kawasan industri, perumahan dan lain-lain. Sehingga kadar air tanah pada satu kawasan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kegiatan pertanian dan kebutuhan air bersih sehari-hari.

Kondisi Iklim di Indonesia
Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia, diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, terdapat banyak selat dan teluk, menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan iklim/cuaca.

Keberadaan wilayah Indonesia sebagaimana tersebut, kondisi iklimnya akan dipengaruhi oleh fenomena El Nino/La Nina yang bersumber dari wilayah timur Indonesia (Ekuator Pasifik Tengah/Nino34) dan Dipole Mode bersumber dari wilayah barat Indonesia (Samudera Hindia barat Sumatera hingga timur Afrika), disamping pengaruh fenomena regional, seperti sirkulasi monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh BMKG (2012), prakiraan hujan bulan September 2012, di wilayah Indonesia umumnya kurang dari 151 mm, meliputi sebagian Sumatera bagian utara dan selatan, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian besar Maluku, Papua. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sifat hujan bulan September 2012 di wilayah Indonesia diprakirakan umumnya Normal (N) dan beberapa daerah Atas Normal (AN). Daerah yang diprakirakan sifat hujan Bawah Normal (BN), meliputi sebagian besar NAD, sebagian Sumatera bagian selatan, sebagian Riau bagian utara, sebagian Sumatera Barat bagian selatan, sekitar Kerinci, sebagian Bengkulu bagian utara, sebagian Lampung bagian utara, sekitar Bandar Lampung, sebagian besar Banten, sebagian besar Jawa Barat, sekitar Semarang, Pati, sekitar Sumbawa, Ruteng, Soe, atambua, sekitar Samarinda, sekitar Gorontalo, Luwu.

Menyikapi Dampak Kekeringan
Dari berbagai dampak yang ditimbulkan oleh kekeringan, diperlukan suatu upaya untuk menanggulanginya, apabila hal tersebut tidak memungkinkan, paling tidak, ada suatu alternatif untuk beradaptasi dengan kondisi yang demikian. Salah satu solusi dalam bidang pertanian, yakni perlunya informasi spasial tentang indeks kekeringan, karena dengan informasi ini dapat ditentukan pola tanam, pemilihan varietas yang cocok. Informasi indeks kekeringan dapat dibuat berdasarkan karakteristik iklim seperti pola hujan bulanan, suhu udara, penguapan dan sifat fisis tanah itu sendiri. Informasi lain yang penting adalah informasi ketersediaan air tanah. Dengan informasi ini dapat direncanakan budidaya tanaman dan tataguna lahan.

Selain itu, dampak kekeringan juga mengkover kebutuhan sehari-hari masyarakat. Seharusnya ketika musim kemarau tiba, masyarakat dihimbau supaya tidak memanfaatkan air yang tidak higenis, karena akan berdampak pada terganggunya kesehatan. Dalam hal ini, pemerintah harus tanggap dengan kondisi yang demikian, agar segera memberikan suplai air bersih kepada masyarakatnya yang dilanda kekeringan. Paling tidak, pemerintah dapat memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut, misalnya dibuatkan bak penampung air hujan, embung, dan kolam penyimpanan air.

Referensi:
Anonim, 2012, Petambak Merugi Akibat Kekeringan (internet), BBC 15 September 2012, <http://bbc.co.uk>, (Diakses 24 September 2012)

Ariwibowo AA., 2012, Kekeringan di Pekalongan, Ribuan Warga tanpa Listrik (internet), ANTARA news 8 September 2012, <http://antaranews.com/>, (Diakses 21 September 2012)

Bambang dan Isti, 2012, Jika Kekeringan Berlanjut, Tuntang Jadi Andalan PDAM (internet), Suara Merdeka edisi 21 September 2012, <http://suaramerdeka.com/>, (Diakses 24 September 2012)

Saktia, Andri, Susilo, 2012, Kekeringan, Indonesia Defisit Air, Suara Merdeka edisi 31 Agustus 2012 <http://suaramerdeka.com/>, (Diakses 23 September 2012)

Syailendra, 2012, 120 Ribu Hektar Sawah Kekeringan (internet), Tempo 6 September 2012, <http://tempo.co/>, (Diakses 24 September 2012)

Related Post

0 comments:

Cari Artikel

Twitter

Facebook

Google+

Blogger